
Distribusi ekspor dan impor teknologi Jepang menurut negara mitra dagang.
Sumber: Statistics Bureau of Japan (MIC), Statistical Handbook of Japan 2025, p. 38.
Jepang merupakan salah satu negara dengan kemampuan riset dan pengembangan (R&D) terbesar di dunia. Pada tahun fiskal 2023, total investasi R&D mencapai 22,0 triliun yen atau 3,70% dari PDB, dengan 73,1% di antaranya berasal dari sektor swasta. Sebanyak 83% peneliti di perusahaan bekerja di industri manufaktur, terutama pada sektor otomotif, elektronik, dan kimia. Struktur investasi ini mencerminkan fokus Jepang dalam mempertahankan keunggulan di bidang manufaktur berteknologi tinggi.
Keunggulan tersebut tercermin pada pola ekspor teknologi Jepang. Pada 2024, nilai ekspor teknologi mencapai 5.047,6 miliar yen, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan terbesar, menyerap 39,6% atau sekitar 1.998,8 miliar yen. Selanjutnya diikuti oleh Tiongkok (12,1%), Inggris (10,4%), Thailand (7,8%), India (4,6%), Meksiko (3,2%), dan Indonesia (3,1%).
Produk teknologi yang diekspor Jepang didominasi oleh teknologi berbasis manufaktur, seperti kendaraan dan teknologi otomotif, robot industri, mesin pembuat semikonduktor, komponen elektronik presisi, serta peralatan otomasi pabrik. Bidang-bidang ini merupakan hasil akumulasi investasi R&D yang telah dilakukan Jepang selama beberapa dekade.
Di sisi lain, nilai impor teknologi Jepang jauh lebih kecil, yaitu 685,8 miliar yen, namun memiliki karakteristik yang berbeda. Amerika Serikat mendominasi 65,4% dari seluruh impor teknologi Jepang, setara dengan sekitar 448,5 miliar yen. Posisi berikutnya ditempati oleh Inggris (7,9%), Swiss (7,4%), dan Jerman (4,3%).
Berbeda dengan ekspornya yang didominasi perangkat keras, impor Jepang lebih banyak berupa teknologi digital. Jepang masih sangat bergantung pada layanan cloud, perangkat lunak perusahaan (enterprise software), keamanan siber, infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta berbagai teknologi digital yang sebagian besar dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Selain itu, Jepang juga mengimpor bioteknologi, obat-obatan biologis, dan beberapa perangkat medis berteknologi tinggi.
Perbedaan struktur ekspor dan impor ini menunjukkan bahwa Jepang masih mempertahankan posisinya sebagai manufacturing powerhouse dunia. Investasi R&D yang besar menghasilkan keunggulan dalam hardware, mesin industri, dan teknologi manufaktur. Namun, di saat yang sama, transformasi digital global membuat Jepang semakin bergantung pada teknologi berbasis software dan layanan digital dari luar negeri. Dengan demikian, tantangan Jepang saat ini bukan hanya mempertahankan keunggulan manufakturnya, tetapi juga memperkuat daya saing di bidang AI, komputasi awan, dan teknologi digital agar mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor teknologi di masa depan.



