Mungkin ini cuma cara pikirku yang aneh.
Aku sering merasa seolah nggak punya pilihan. Tapi pada akhirnya, aku selalu berusaha menciptakan pilihanku sendiri. Mencari opsi, bahkan saat rasanya nggak ada jalan yang tersedia.
Soal masa depan, aku juga nggak tahu. Yang bisa kulakukan mungkin mirip ular—menjulurkan lidah, mengendus keadaan di sekitarku, membaca apa yang ada di depan. Kalau melihat ada peluang, ya aku maju. Meskipun belum benar-benar tahu seperti apa kondisi keseluruhannya.
Tetap mencoba dan terus maju. Membaca peluang, menciptakan pilihan sendiri, lalu mengejarnya.
Aku cuma tahu satu hal: mencoba. Entah nanti hasilnya gagal atau berhasil, aku nggak tahu. Yang penting, aku berusaha menjadi calculated risk taker—berani mengambil risiko yang sudah dipertimbangkan.
Makanya aku kadang heran sama beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Di kantor misalnya, uriage sempat redup. Rasanya lesu, dan dari iklan yang kami pasang, kandidat yang masuk juga sedikit banget. Tapi ya tetap jalan. Terus mencoba, terus evaluasi. Eh, lama-lama mulai membaik. Tiba-tiba kandidat mulai berdatangan. Memang belum S-rank semua, tapi tetap ada arus yang terus masuk.
Di saham juga begitu. Taiyo Yuden yang aku pegang sempat untung. Sekarang walaupun posisinya masih profit, melihat harganya turun tetap saja rasanya sakit. Tapi di situ aku juga belajar buat tetap berpegang pada prinsip yang sama: bukan menghindari risiko, melainkan mengambil risiko yang sudah diperhitungkan.
Mungkin memang itu satu-satunya cara yang aku tahu untuk menghadapi hidup. Bukan menunggu semuanya pasti, tapi terus membaca keadaan, membuat keputusan dengan informasi yang ada, lalu melangkah. Kalau ternyata salah, ya evaluasi dan coba lagi. Kalau benar, ya lanjutkan.



